Keluarga

Dua Faktor Pemicu Persaingan pada Anak

Berikut beberapa faktor pemicu dan penyebab anak melakukan persaingan :

1. Faktor INTERNAL

a. Gizi dan kesehatan. Anak yang memiliki kesehatan prima cenderung lebih terampil beraktivitas sehari-hari. Hal ini tentu tak lepas dari asupan makanan bergizi sehingga tubuh sehat dan kuat. b. Belajar dan pengenalan diri. Si prasekolah sedang membangun ego dan mencari identitas diri. Ia mulai memahami persaingan. Setiap hari mereka mengukur dirinya terhadap anak-anak lain. Pada usia ini, anak sudah mulai memiliki rencanarencana, tujuan-tujuan, dan harapan-harapan sendiri. Ia ingin belajar sehingga mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya dan kesempatan untuk banyak mencoba. Dengan cara membuktikan bisa menentukan sesuatu sendiri atau bisa lebih baik dari yang lain.

2. Faktor EKSTERNAL

a. Tuntutan orangtua. Terkadang orangtua tak sadar mendorong anak untuk melakukan persaingan, seperti berkata, “Ayo kamu bisa!” atau “Wah, Adek, kok bisa kalah sih?” Hal ini terkadang memotivasi anak untuk bersaing dengan anak lain, bahkan dengan saudara kandung sendiri. b. Lingkungan. Anak melihat dan membandingkan dirinya dengan anak lain. Ia ingin bisa mengikuti atau meniru kemampuan anak lain. Hal ini mendorongnya memiliki kemauan kuat dan bersaing untuk mendapat perhatian dari orang di sekitarnya, termasuk mama-papanya.

Dua Jenis Persaingan

1. Persaingan yang positif dalam keseharian, baik yang terjadi di rumah ataupun di luar rumah. Contoh: dalam mencapai prestasi, seperti mengikuti lomba menyanyi, melukis, mewarnai, fashion show, bermain piano, lomba balap lari, dan sebagainya. Anak senang menunjukkan kepandaiannya, selain juga mengembangkan minat dan bakat agar semakin terbentuk kepercayaan dirinya.

2. Persaingan yang negatif dalam keseharian terjadi bila menimbulkan rasa kebencian, iri hati, perselisihan, permusuhan atau pertentangan sehingga memengaruhi hubungan. Misal, rebutan makanan atau minuman, berebut video games, channel teve, dan sebagainya.

Sisi Negatif Persaingan

Apabila orangtua tidak mampu mengarahkan perilaku anak, persaingan akan berakibat: * Anak cenderung menganggap teman sebayanya adalah musuh yang harus dikalahkan. * Anak cenderung merasa iri pada teman yang menang sehingga ia merasa tersingkir jika kalah, merasa takut gagal, cemas, dan cenderung kurang berempati pada orang lain. * Anak merasa, setiap persaingan adalah pertandingan sehingga ia harus selalu menang. Bisa jadi ia tidak pernah merasa puas dengan kemenangan yang selama ini didapat, terlalu fokus pada persaingan/kompetisi sehingga tidak siap menerima kekalahan.

Simak juga informasi lengkap mengenai kursus IELTS terbaik di Jakarta.