Berita

Enam Kecamatan Di Lombok Masih Terisolasi

Ribuan warga enam kecamatan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, masih terisolasi pascagempa berkekuatan 7 pada skala Richter, akhir pekan lalu. Bantuan dasar seperti tenaga medis, tenda, makanan, dan air bersih belum dapat disalurkan karena jalan dan jembatan menuju desa-desa di kecamatan tersebut rusak. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan berbagai cara terus ditempuh agar bantuan dapat disalurkan ke daerah terisolasi tersebut. Antara lain lewat relawan yang berjalan kaki atau dengan helikopter. “Kendalanya, posisi desa sangat jauh satu sama lain.

Jarak dengan pusat bantuan juga mencapai ratusan kilometer,” kata Sutopo dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat telah mendirikan pusat bantuan dan posko darurat di kantor Bupati Lombok Utara dan Lombok Timur—dua daerah yang paling terkena dampak gempa. Adapun enam kecamatan yang terisolasi adalah Kecamatan Bayan, Tanjung, dan Kayangan di Kabupaten Lombok Utara, Kecamatan Sambelia dan Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, serta Kecamatan Gunung Sari di Kabupaten Lombok Barat.

Sutopo mengatakan 80 persen rumah penduduk dan bangunan lain di kecamatan tersebut rusak total. Lima jembatan yang menjadi akses ke sana juga rusak. Selain itu, komunikasi sulit karena jaringan seluler sejumlah operator belum berfungsi, sementara listrik masih padam total. Di Kecamatan Bayan, misalnya, warga sama sekali tidak dapat mengakses air bersih karena sebagian besar jaringan pipa PDAM Lombok Utara hancur. Krisis air bersih di Bayan diperkirakan akan berlangsung hingga 12 hari ke depan. Sumur-sumur warga juga dilaporkan kering setelah gempa karena pergerakan batuan dan tanah menyebabkan mata air menghilang.

Sebuah dusun di Kecamatan Tanjung bahkan belum memperoleh bantuan apa pun. Begitu pula sebuah desa di Kecamatan Gunung Sari. Padahal tercatat semua rumah di desa itu hancur total. Warga dilaporkan kekurangan makanan, tenda, dan obatobatan. Puluhan korban luka juga belum ditangani karena tenaga medis belum tiba di sana. BNPB mencatat korban meninggal akibat gempa Lombok terus bertambah menjadi 105 orang. Korban ini belum termasuk gempa akhir Juli lalu yang menyebabkan 20 orang meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh.

Selain itu, puluhan ribu orang masih mengungsi di ratusan titik di Lombok. Dari Lombok, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto memimpin operasi cepat tanggap penanggulangan gempa. Ia mengatakan berbagai bantuan telah dikirim sebagai hasil koordinasi dengan kementerian dan lembaga serta lembaga swadaya masyarakat. Sebuah kapal rumah sakit milik TNI Angkatan Laut juga telah tiba di Lombok dari Surabaya.

RSUD Lombok Utara nyaris ambruk akibat gempa. Pasien yang terus berdatangan sejak Senin lalu dirawat di halaman rumah sakit dengan beratap terpal. “Kami telah mendirikan rumah sakit lapangan untuk mengatasinya,” kata Wiranto. Agung Gumelar, relawan dari Lembaga Zakat Nasional Dewan Dakwah yang sudah empat hari berada di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, mengatakan bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah makanan, obat-obatan, dan tenaga medis. Di posko kecamatan itu, kata dia, ada puluhan warga luka yang baru diobati seadanya. “Kiriman bantuan masih sangat bergantung pada bantuan dari Kota Mataram,” kata dia.