Tech

Foxconn pun Kalah Cepat dibanding Penjahat Bagian 1

Penyerapan pasar pada produk elektronik telepon seluler di Indonesia yang tahun 2014 ini diperkirakan mencapai lebih dari 60 juta unit, tidak saja merangsang para industriawan ponsel dunia atau lokal. Angka itu juga memberi ide “cemerlang” pada para penyelundup dan pemalsu ponsel. Angka 60 juta yang merupakan angka resmi dari data Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, bisa saja meleset, berkurang, karena makin maraknya penyelundupan. Juga mulai banyaknya kriminal yang memroduksi ponsel tiruan dari merek terkenal, semisal BlackBerry, iPhone dan Samsung. Akhir bulan Mei lalu, petugas menggerebek satu “pabrik” ponsel yang memroduksi ponsel iPhone, Samsung dan BB, dan menyita 700-an hasil produksi yang siap dipasarkan.

Sepintas, bahkan dengan pengamatan yang lebih teliti oleh masyarakat umum, ponsel buatan pabrik rumahan itu tadi sama persis dengan ponsel aslinya. Kelengkapannya sama, kotaknya bagus, buku petunjuknya dicetak rapi, ada barkod IMEI –nya, ada nomor pendaftaran dari Ditjen Postel Kementerian Kominfo, dan sebagainya. Hanya saja, ketika digunakan, kegombalannya langsung terbukti karena kinerja ponsel tadi yang sangat buruk, sehingga akhirnya hanya dapat digunakan untuk jual tampang, bukan untuk berkomunikasi.

Penjual di toko ponsel pun angkat tangan jika dimintai pertanggungjawaban, karena umumnya sejak awal ia menolak menyebut itu ponsel asli, menyebutnya ponsel BM (black market – pasar gelap) atau rekondisi, refurbish. Karenanya harga yang ditawarkan pun jauh lebih murah dibanding harga ponsel aslinya. Kelompok tadi tidak hanya membuat ponsel baru dengan komponen impor, tetapi juga melakukan kanibalisasi dari ponsel-ponsel bekas yang mereka beli dari pemulung.

Bisa tiga ponsel bekas yang sama jadi satu ponsel rekondisi, mungkin ditambahi beberapa komponen impor seperti layar atau sirkit utama, lalu dijual sebagai ponsel baru dengan kemasan baru, komplet dengan IMEI dan tempelan hologram nomor pendaftaran Ditjen Postel, yang nomornya semua sama.

Menakjubkan, dari pembuatan ponsel asli tapi palsu, bekas, rekondisi atau KW 1, mereka bisa mendulang rezeki bersih sampai Rp2 miliar sebulan, dilihat dari faktur dan bukti pengirimannya. Walaupun perhitungan kasar pendapatan mereka lebih dari itu, sebab dalam sebulan kelompok ini mampu membuat sampai hampir seribu ponsel ftur dan ponsel pintar, dengan harga jual rata-rata dua jutaan. Dari sisi keterampilan, para pembuat ponsel ini boleh saja diacungi jempol, hanya sayangnya jalan yang mereka tempuh salah.

Tetapi mereka secara telak mengalahkan para pemegang merek ponsel impor yang sudah mengumumkan sejak lama akan memroduksi ponsel di dalam negeri, tanpa realisasi. Para kriminal ponsel itu bahkan mampu menyindir calon pembuat ponsel resmi yang selalu mengutarakan kendala dalam memroduksi ponsel merek dunia antara lain soal pajak komponen yang sampai 10 persen yang bisa berakibat langsung pada harga produksi yang lebih mahal dibanding impor.