Tech

PC sebagai game console tercepat

Mantle akan memberikan dua keuntungan bagi para pengembang, yakni akses langsung dalam mengelola hardware dan pemrograman mirip bahasa mesin yang lebih “dimengerti” GPU. DirectX memakai bahasa, seperti C++ untuk game engine dan HLSL untuk GPU, yang lebih mudah diprogram tetapi kurang efisien saat di-compile ke bahasa mesin. Overhead yang dihasilkan Mantle relatif lebih rendah. Selain itu, game engine pun tidak dapat mengakses hardware secara langsung dengan DirectX, sehingga pemanfaatan multicore CPU menjadi kurang optimal.

Contohnya, game Star Citizen dengan CryEngine-nya yang menampilkan ribuan objek dinamis. Untuk me-render-nya, DirectX dan CPU membutuhkan waktu lebih lama dalam meng hitung frame dibandingkan memakai graphics card. Pada Mantle, graphics card menjadi penentu kecepatan rendering frame. AMD menjanjikan peningkatan performa hingga 45% dibandingkan DirectX. Waktu pemrograman game yang lebih lama (dengan Mantle) bagi programmer “dibayar” dengan kebebasan mengelola command buffer di RAM, menentukan eksekusi perintah (berurutan atau paralel), dan pendistribusian perintah ke semua hard ware resource (multicore CPU dan GPU).

AMD mengklaim bahwa graphics card de ngan Mantle dapat memproses hingga 100.000 draw-call per frame, yang berarti jauh mengungguli DirectX dan game console. Meskipun baru didukung oleh 15-20 game tahun ini, dampak Mantle mulai terlihat de ngan adanya respons Microsoft yang berencana merilis DirectX 12 yang dijanjikan akan jauh lebih efisien dibandingkan DirectX 11. Bagaimana dengan graphics API lainnya, seperti OpenGL?