Berita

PEMBUNUHAN MISTERIUS DI SELATAN YAMAN Bagian 2

Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan beberapa elemen STC mungkin berada di balik pembunuhan para ulama. “(Partai) Islah benar-benar menghadapi tekanan berat di Aden dan di tempat lain, baik secara politik maupun keamanan,” kata pejabat yang berbicara secara anonim itu. Dalam upacara peringatan 12 Mei, dua hari setelah pembunuhan Sharjabi, kerabat dan teman-teman menggambarkannya sebagai pribadi yang ramah dan disukai. Dalam spanduk peringatan kematiannya, dipilih foto Sharjabi mengenakan jaket krem, kemeja merah jambu, dan kacamata hitam. Ia tampak lebih mirip bintang film ketimbang seorang ulama.

Dalam khotbah-khotbah dan di halaman Facebooknya, Sharjabi mendesak para pemuda agar menjauh dari milisi pro-separatis dan mencela ekstremisme. “Safwan selalu menyerukan persatuan, seperti yang dilakukan semua ulama moderat lainnya yang terbunuh,” kata Wael Farea, ulama Islah lainnya. Sejumlah pihak terdekat dengan Sharjabi pun terang-terangan menyebutkan pihak yang bertanggung jawab. “Pembunuhan ini dilakukan untuk melayani beberapa pihak, dari luar dan dalam negeri,” kata Ashraf Ali Muhammed, seorang wartawan lokal, mengacu pada Uni Emirat Arab dan milisi separatis. “Pihak-pihak ini mengancam akan mengusir Islah dari masyarakat.” Bagi Aden, pembunuhan ini memiliki dampak buruk. Sejumlah masjid ditutup karena ulamanya memilih pergi. Beberapa ulama menolak memimpin salat subuh karena kegelapan menawarkan perlindungan bagi para pembunuh. Pihak yang lain memutar jadwal ceramah mereka setiap hari untuk menghindari pola yang dapat diprediksi.

Di sebuah masjid, tergantung potret dinding dari ulama yang juga tewas dibunuh, Showki Khumadi. Dia adalah guru Sharjabi dan rekannya, Farea. Tiga bulan sebelum Sharjabi dibunuh, Khumadi dieksekusi. Dua pria dengan sepeda motor membunuhnya saat Khumadi mendekati sekolah untuk mengajar Al-Quran. Kini, Farea menggantikan Khumadi di Masjid Al-Thuwar. Dia juga mendorong persatuan dan secara terbuka mengkritik Uni Emirat Arab. Farea pun memprediksi dirinya dalam target pembunuhan. Namun dia telah melatih 10 ulama lainnya. “Jika sesuatu terjadi pada saya,” kata Farea,“akan ada orang lain yang akan mengurus Aden.”