Berita

PEMBUNUHAN MISTERIUS DI SELATAN YAMAN

ADEN — Sebuah mobil sedan Toyota Corolla berwarna putih berhenti di samping Safwan al-Sharjabi saat dia tengah berjalan di jalan di Kota Aden, Yaman selatan, yang ramai pada suatu malam, Mei lalu. Seorang pria melangkah keluar dari mobil dan menembakkan setidaknya empat peluru ke arah ulama kurus yang baru saja membeli obat untuk ibunya itu. Sharjabi pun jatuh ke tanah. Darah keluar dari punggungnya. Sharjabi menjadi salah satu ulama muslim yang tewas dalam serangkaian pembunuhan yang tak terpecahkan. Sebanyak 27 ulama tewas dalam dua tahun terakhir di Aden dan daerah sekitarnya.

“Kebanyakan orang di lingkungan itu mengenal Safwan dan mendengarkan khotbahnya,” kata Mohammed Abdullah, 32 tahun, pemilik farmasi yang melihat mobil itu melaju kencang, kepada The Washington Post, pekan lalu. “Dia berpengaruh. Itulah alasan mereka membunuhnya.” Namun siapa yang membunuhnya masih menjadi misteri, meski spekulasi terus meluas. Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut dan tak ada pelaku yang ditangkap. Di kota Yaman selatan yang kacau-balau ini, dengan pemerintah lokal yang nyaris tidak berfungsi dan para pria bersenjata berada di jalanan, para ulama mengisi kekosongan kepemimpinan. Sebagai pemimpin masyarakat, mereka pun menjadi target banyak pihak. “Dengan setiap pembunuhan, masyarakat dilemahkan,” kata Leila Shabibi, seorang aktivis hak asasi manusia dan demokrasi Yaman. “Para ulama adalah pemimpin yang efektif di komunitas mereka. Mereka memecahkan perselisihan dan memberi saran.

Mereka adalah guru dan juru bicara komunitas mereka.” Sejumlah pihak menduga pembunuhan itu terkait dengan perebutan kekuasaan di antara dua sekutu Amerika Serikat di Yaman: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Kedua negara itu bersama-sama memimpin operasi militer terhadap milisi Syiah Houthi yang menggulingkan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Namun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki visi yang berbeda untuk masa depan Yaman. Banyak ulama yang terbunuh, termasuk Sharjabi, adalah anggota partai politik Islam yang berpengaruh, yang dikenal sebagai Islah. Saudi melihatnya sebagai sekutu, penting bagi pembangunan kembali Yaman.

Sebaliknya, Emirat menganggap anggota Islah radikal berbahaya karena terkait dengan Al Ikhwan Al Muslimin, yang dipandang oleh beberapa kekuatan regional sebagai kelompok ekstremis. “Operasi (pembunuh an) ini dipikirkan secara matang dan dirancang dengan baik,” kata Peter Salisbury, seorang analis Yaman dari International Crisis Group. “Orang-orang yang menjadi sasaran berada di luar arus utama baru yang pro-pemisahan.” Tudingan terhadap Emirat semakin kuat karena, sejak konflik koalisi Saudi melawan Houthi pada 2015, Aden yang menjadi ibu kota sementara bagi pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi dikuasai oleh milisi propemisahan yang disebut Dewan Transisi Selatan (STC). Milisi ini didukung oleh Emirat.

Lanjut ke Bagian 2 : https://illustrators-online.net/pembunuhan-misterius-di-selatan-yaman-bagian-2/